Jum'at, 25 April 2014 | Selamat Datang
09 : 12 PDIP Akan Perbaiki DCS, Beberapa Caleg Berpindah Dapil Panwaslu Tegur Jokowi, PDIP Harus Sadar Diri KPK Sita Tiga Mobil dari DPP PKS KPK Periksa Perwira Polri terkait Simulator SIM Kasus Impor Daging, KPK Periksa Kerabat Anis Matta Majelis Mujahidin Akan Gugat Pancasila Sebagai Dasar Negara ke MK Demokrat Belum Coret Tersangka Korupsi dari Daftar Caleg Ahok Ancam Guru Honorer yang Demo Ahok Sudah Prediksi e-KTP Akan Bermasalah Jokowi Diharapkan Tinjau Seleksi Camat & Lurah 2015, Pilkada Dilakukan Secara Serentak UU Parpol Digugat ke MK Gereja-gereja Indonesia Gelar 'Celebration of Unity' Tokoh Bulutangkis Karsono Meninggal Polisi Papua Barat Berhasil Temukan Barak Pelatihan Anggota OPM Jokowi Pusing Dokumen Hambat Proyek Monorel PDIP Klaim Jokowi Kantongi Izin Kampanye di Bali BKN Keluhkan Perilaku Pejabat Daerah Urus Pegawai Warga Saudi Terlibat Bom Gereja Di Tanzania Ahok: Pengganti Dirut Ancol Harus Orang Dalam

Translator

Popular

Renungan

Politik Hati Nurani: Santun>Bersih

Rasul Paulus nabi apostolik universal dengan dogma Roh Kudus ajaran ubah konstitusi kerajaan kafir jadi negara di mana Tuhan yang Esa (Elohim, Alahim, Allah) memerintah.

Dasar Imam Agung Jahudi>Islam nyatakan Dia Pendiri/Masab/Sekte Nasrani (Nashara) dengan Ideologi Iman (Pistiokrasi) dengan doktrin politik hati nurani (Hanura). Pangkatnya Kristen santun bersih. Allah bertahta pada Hati Rakyat (Kis 24:5, 11;25-26, 1 Kor7:6;Ef3:12

Lagu " Kumenang"

Robinson Togap Siagian

Suara Pembaca

Roh Kudus Menyertai Kita

YOH 14 ;15 Jika kamu mengasihi AKU , kamu menuruti perintah-KU. 16 AKU akan minta kepada BAPA , dan DIA akan memberi padamu Seorang PENOLONG yang lain , supaya IA menyertai kamu selama-lamanya .   17 yaitu ROH KUDUS , Dunia tidak menerima DIA , sebab tidak melihat DIA dan tidak mengenal DIA .    Tetapi kamu mengenal DIA , sebab IA menyertaimu dan diam didalam kamu >RENUNGAN ; ROH KUDUS menyertai dan diam didalam kita ! HALELUYA HALELUYA

Basirun Sinaga

 
Repot?

Ketika seseorang bertanya dari (sms) buat apa repot-repot mengirim ayat emas tiap minggu? Jawaban ada di >> Jos.1:8: Kita tidak boleh lupa mempercakapkan taurat Tuhan siang dan malam. "selamat beribadah"

-Pdm Togar L Tobing-

 
Jarak Terdekat Masalah

MAZMUR 4 ; 2 Apabila aku berseru ,jawablah aku , ya TUHAN , yang membenarkan aku . Di dalam kesesakan , ENGKAU memberi kelegaan kepada-ku . Kasihanilah aku dan dengarkan lah doa-ku ! >RENUNGAN ; Jarak terdekat antara suatu masalah dengan pemecahan masalah tersebut adalah jarak di antara lutut kita dengan lantai . >Selamat mencoba bagi kita yang mungkin membutuhkan pemecahan suatu masalah yang kerap terjadi !HALELUYA YESUS TUHAN MEMBERKATI !

Basirun Sinaga

 
PROFIL DAN KESAKSIAN PENDETA KHAREL BUDIMAN SILITONGA – TOKOH PENGINJIL DAN PERINTIS GEREJA BANTEN PDF Cetak E-mail Dibaca: 6410
PostAuthorIcon RTS    PostDateIcon Selasa, 28 Juni 2011 10:07

Kharel Silitonga dan KeluargaSAYA DIJULUKI : NOMENSENNYA BANTEN”

DR. Kharel Budiman Silitonga, S.Th,MA tepat pada tanggal 4 Mei usianya 61 tahun melayani di wilayah Kabupaten Bogor,dia dijuluki pendeta plus, pendeta preman, pendeta pantekosta, dan pendeta seniman yang tingkah lakunya unik, perlente, urakan, gaya cowboy, selanjutnya dikenal tokoh ulama Nasrani di Banten.

Putra Batak kelahiran Jambi itu, mantan preman Medan tahun 70-an sehari-hari akrab dengan Jeep Toyota terbuka angker menantang, berkeluyuran menelusuri wilayah kota hujan Bogor, kuda tungganganya itu penuh dengan label-lebel OKP Pemuda Pancasila dengan seragam baretnya yang menyala garang selalu melekat ditubuhnya, kalau itu sudah dipakainya pendeta tersebut sedang melaksanakan kegiatan rutin patroli kemasyarakatan.

Di lain hari, dia bergaya perlente, dasi dan jas necis menggunakan Mercedes biru dan Avanza , lakunya ganteng, menarik, bicaranya ceplas ceplos, to the poin, tanpa tedeng aling-aling, setiap orang yang mendengar pasti berdecak kagum, apalagi menyimak uraiannya tentang pelayanan sebagai hamba Tuhan yang teraniaya oleh rakyat Badui Banten.

Dengan penampilannya itu, Pendeta Silitonga yang beristerikan wanita keturunan itu (diberinya marga Hombing dengan lengkapnya Magdalena Soey Nio br Hombing Lumban Toruan) dapat diterima di kalangan tokoh masyarakat Kristiani, dan warga Bogor, terutama kalangan aparatur pemerintah, dan ulama-ulama Islam, Hindu, Budha, Katholik. Setiap even yang berhubungan dengan pembinaan mental dan rohani Pendeta Kharel Silitonga selalu memberikan gagasan dan suasana segar.

Kharel Budiman Silitonga yang mempunyai dua putra, Yezeriel Kwantino Silitonga dan Silas Petra Silitonga, sangat mahir menggunakan musik. Dia menyenangi lagu-lagu gerejawi, menggemari lagu pop, dangdut, “Banyak lagu pop dan dangdut memberikan improvisasi bagi saya,” ujarnya, kepada  Robinson Togap Siagian Pemimpin Redaksi Surat Kabar Online Suara Nasrani Indonesia-Ketua Perkumpulan Jurnalis Nasrani Indonesia (PJNI).

Jika Kharel Silitonga berada di atas mimbar menggunakan tema khotbah mingguan dengan isu-isu mutahir, up to date, sehingga jemaat menyenangi karena mendapat informasi terbaru, tentang peristiwa moneter dan gejolak ekonomi, terorisme, dan lain-lain. Diuraikannya cukup menarik dengan latar belakang teologinya yang penuh nuansa alkitabiah.

Sebelum menggondol diploma dari Sekolah Tinggi Theologia Jember di Batu Malang, Kharel Silitonga malang melintang mengadakan penginjilan di Baduy Banten. Ia mengalami  penganiayaan yang mengundang bulu roma merinding; "Saya dibacok, ditikam, diparang dengan maksud membunuh saya, tapi Tuhan berkuasa, ujar Kharel Silitonga asal Sipahutar Tapanuli Utara itu mirip dengan misioner Apostel Nomensen yang datang di tanah Batak, sebelum menuju tanah Banten yang wilayah mirip dengan suasana kehidupan nenek moyang orang Tapanuli. Salah satunya adalah “Saya menguasai bahasa aslinya orang Banten” ujar Kharel. Saya dijuluki Nomensen Banten”, tambah Budiman Silitonga yang pernah belajar beberapa bulan di Universitas Nomensen Medan.

Salah satu kenangan pahit yang sulit dilupakanya adalah penganiayaan-penganiayaan dan upaya pembunuhan yang dilakukan oleh oknum tertentu kepada pengikutnya di Banten diantaranya Kyai Andhil, kata Budiman Silitonga peristiwa tidak  harus terjadi, apabila tidak ada upaya oknum-oknum di luar Baduy yang memprovokasi, mereka bawa massa dari luar Baduy Banten, peristiwanya sangat sadis sungguh sangat mengerikan. Dengan adanya darah tertumpahkan di Banten berdirilah Gereja Banten yang dirintis Kharel Silitonga di Badui Banten.

Pembunuhan terhadap pengikutnya, pihak Kantor Urusan Agama Jawa Barat membuat memori catatan sejarah kegerakan Gereja diwilayah Banten, "Saya bangga dengan ketaatan pengikut saya itu, sehingga makin banyak pengikut Jesus (Isa Almasih) di Banten serta selanjutnya terbuka terhadap penginjilan yang dilakukan di berbagai dominasi Gereja.

Pengalaman hidup yang getir, serta keragaman pergaulannya mendorong Kharel Silitonga lebih banyak mengenal tokoh bangsa Indonesia, membangun kehidupan toleransi beragama di Kabupaten Bogor baik melalui gereja-gereja Pantekosta sebanyak 121 buah gereja (GPdI) di Kabupaten Bogor, Organisasi Kepemudaan dan Kemasyarakatan Pemuda Pancasila, dan persekutuan Oikumene, serta kelembagaan pemerintah dan swasta dan kerukunan antar umat beragama.

Bagaimana dan suka dukanya menginjil Kharel Budiman Silitonga yang dikenal sebagai Gembala Sidang GPdl Gunung Sindur, Ketua Yayasan Getzmani Bogor, Sekum, Kabupaten Bogor, Ketua DPI Kabupaten Bogor, Ketua PAC Pemuda Pancasila Gunung Sindur/Wakil Bendahara Koperasi DPC&Pemuda Pancasila Kabupaten Bogor , Ketua Yayasan Anugerah Bogor dapat dibaca melalui uraian dialog sebagaimana terurai di bawah ini. Selain kisah ini pernah diangkat dalam naskah tulisan di Media Massa seperti Majalah Narwastu, Bonapinasa, Surat Kabar Sinar Indonesia Baru Medan, maka Surat Kabar Online Suara Nasrani Indonesia mengangkat pengalaman pahit Kharel sebagai tokoh perintis penginjilan di Banten, sedangkan buku Profil Kesaksian yang kemudian diterbitkan Organisasi Nasrani Indonesia (ONI) dan dipasarkan melalui www.suaranasraniindonesia.com.

Saya pernah mendapat julukan pendeta "Gila" karena berani memasuki wilayah Banten, yang dikenal daerah tertutup.Waktu itu  masih seorang diri. Sebagai perintis pelayanan Tuhan di Banten. Sebelum tamat Sekolah Tinggi Thieologia di Jember di Sekolah Penginjilan Betel di Petamburan Jakarta saya  masuknya gereja ke Banten. Saya waktu itu merintis dengan traktat, dan brosur ternyata sampai ke 5 Pesantren Wanasalam, Kec. Malimping, K. Andhil membaca selebaran saya pada saat beliau membaca Alqur'an, ternyata kelihatan gambar Tuhan Jesus (Isa Almasih), siapa itu, pikirnya penasaran, kemudian tokoh ulama itu pergi ke Rangkas Bitung. Dia pun turun bis di halte dekat gereja, dia lihat gambar yang sama atas mimbar olehnya, dia pun berteriak  gambar orang kafir, sambil memalingkan diri, setelah sampai di rumah membaca Alqur'an, lalu perkata : Kafir-kafir tunjukkan mukamu , tidak terlalu lama, K.H. Andhil mendengar suara halus lembut memanggil namanya  Andhil, Andhil, Andhil sampai tiga kali, siapa kamu : lantas suara itu berkata : Akulah yang bernama Tuhan Jesus (Isa Almasih) yang kamu lihat di gereja itu. Suara yang memanggilnya itu berbahasa Baduy "Saya mengasihi kamu, balik harinya dia datang lagi ke Gereja Pasundan untuk bertanya kepada Pendeta Gereja Pasundan Rangkas Bitung tentang penglihatan dan gambar itu. Bagaimana kamu bisa percaya, saya baca di buku ini dan Tuhan Jesus (Isa Almasih) tertulis juga di Al-quran saya, sebagai penghakim, dan penjelasan-penjelasan dari selebaran dari seorang berkumis, jenggot dan berambut panjang, dia tidak mengenal saya.

Pendeta Gereja Pasundan berkata kepada Andhil bahwa orang yang menyebarkan selebaran itu adalah Kharel Silitonga, ia sekarang melayani di Baduy, setelah itu meminta Andhil menemui Kharel Silitonga yang sekarang berada di Baduy.

Suatu ketika, saya disuruh ke Malimping oleh Pendeta-pendeta di Rangkas Bitung untuk menemui K.H. Andhil, saya pun berangkat untuk menemui pak Kyai. Setelah bertemu dengan Bapak Kyai Andhil. Dia menyambut saya dengan berkata : Wah ini orang yang membagi traktat itu. Jadi tokoh ulama itu meminta Kharel mengajarkan dan memperkenalkan ajaran Tuhan Jesus. Saya pun mengajar mereka, apa adanya karena mereka tidak mengerti aksara latin, hanya tahu menggunakan tulisan Arab dan bahasa Banten. Untung saya menguasai bahasa ibu mereka,dan cara sama seperti Apostel Nomensen Penginjil Legendaris Batak untuk mengabarkan berita suka-cita di Tapanuli. Beruntung saya pernah belajar di Universitas Nomensen Medan. walaupun beberapa bulan, dan memahami bagaimana keberhasilan Nomensen menginjil di tanah Batak. Cara itu kemudian saya terapkan di Banten dengan mempelajari bahasa suku Banten.

Nomensen bukan orang Batak; kenapa berhasil. Saya bukan orang Banten, tapi saya bertekad menjalankan dan berhasil. Saya menyampaikan injil kepada Kyai itu, bukan semata-mata mengkristenkan, akan tetapi menyampaikan berita suka-cita dan agar suku tradisional dapat mengenal Jesus yang di Al-quran tertulis sebagai Nabi Isa, di lain pihak mereka tidak tahu bahasa latin, namun dengan penjelasan tersebut mereka dapat menerima dan mempercayai, kalau ditanya percaya, percaya, kemudian kelompok jemaah yang dipimpin Andhil menjadi pembicaraan warga sekitarnya, sebab Jemaat itu maju dalam segala aspek kehidupan, perkebunan dan pertanaman tumbuh subur-subur. Saya menjelaskan barang siapa yang mempercayai jalan kebenaran Tuhan akan diberikan suka cita dan kelimpahan hidup yang kekal itu saja yang saya ajarkan, tidak pernah mengajak-ajak mereka menjadi Kristen, melihat perkembangan komunitas itu masyarakat menjadi resah adanya oknum-oknum yang iri hati, khususnya dari pihak dukun yang pasiennya berkurang dari hari ke hari. Sebab setiap sakit, apabila kematian bila penduduk membawa bibit padi atau tanaman lain hasilnya memuaskan, kejadian-kejadian ini tahun demi tahun menjengkelkan oknum dari cara tradisional kepada cara Alkitab serta mujijat-mujijat yang terjadi atas nama Tuhan Jesus, dengan latar belakang itulah mendirikan Jemaat di Wanasalam yang dipimpin Bapak Andhil. Di sana pun berdiri Gereja pertama di Banten yang mereka sebut Gereja Pribumi Banten di desa Wanasalam, Kecamatan Malimping Banten. Kyai Andhil mempunyai pesantren-pesantren dan membubarkannya, suasana makin kisruh sampai terjadinya pembakaran dan pembunuhan terhadap Kyai Andhil serta penganiayaan terhadap saya. Saya tidak tahu mengapa harus Kyai Andhil terbunuh, sedangkan saya menurut medis tidak mungkin lagi hidup dan bersembunyi beberapa hari di hutan dengan pisau-pisau di punggung dan di badan dan darah pun sudah habis, Beberapa orang Jemaah menemukan saya dalam keadaan sekarat di hutan, kemudian melarikan ke rumah sakit.  Gereja pun diijinkan berdiri didesa  tersebut, setelah peristiwa itu diteruskan Pak Gafur. Jadi lewat percaya dan kejadian itu, percaya, percaya dan mereka lakukan, berdirilah Jemaat Kristen di sana.

Tidak mempan dikasih santet dan perempuan, mereka menganiaya saya.Ketika istri saya masih berstatus gadis, tidak percaya muzizat kalau belum lihat barulah mengijinkan penganiayaan supaya percaya sakit karena makanan, biasa kita makan nasi, ada ikan asin syukur, tak adapun tak apalah, apa adanya disikat saja.  Penyakit saya sejenis disentri, karena itu darah ke luar terus, sampai tidak bisa berjalan. Waktu itu saya tinggal di rumah panggung. Masyarakat di sana heran melihat saya tak berdaya, mengapa pendeta itu sakit parah padahal dia sering menyembuhkan orang sakit. Suatu malam ketika saya kritis dan sekolompok orang yang tidak dikenal, isteri saya waktu itu sedang mengajar anak-anak untuk perayaan Natal, tiba-tiba datang gerombolan ± 15 orang sambil berkata; mana orang yang membuat Islam menjadi Kristen dengan perintah bunuh saja. Saya waktu itu tidak bisa berbuat apa-apa, mereka melempar saya dari atas rumah panggung ke tanah. Setelah tergeletak di tanah, mereka menikam dengan pisau Baduy sampai di Rumah Sakit masih menempel di badan.Esok harinya ditemukan di hutan tetapi saya tidak mati. Mereka mengalihkan perhatian, mereka berteriak memerintah mengahabisi isteri saya menganiaya saya bersembunyi ke dalam lemari. “selamatkan saya Tuhan”, lemari dengan pisau, tetapi mereka tidak kekuasa Tuhan itu ada setia melindungi hambanya. Sementara ldapor ke Polisi Mereka-menemui kami besok pagi setelah berada di hutan, darah pisau masih lengket, dibawalah ke rumah sakit, dengan visurn 21 bacokan, 3 pisau tetapi saya masih hidup sampai sekarang.

Inilah bukti Tuhan itu memiliki kuasa besar menyelamatkan nyawa dengan bukti saya tidak  mati. Saya meminta agar dirujuk pulang.Kemudian saya melapor ke Kantor Urusan Agama, mereka mencatat bahwa ini merupakan atau satu memori Sejarah Gereja di daerah Banten. Sementara itu, saya kembali ke Bogor untuk menenangkan diri. beberapa waktu melayani.

Ketika beberapa waktu kemudian saya kembali lagi melihat jemaat,sesampai di sana istri saya syok, lumpuh karena ia memikirkan peristiwa yang lalu, perisiwa itu terjadi setelah turun dari bis, puji syukur kepada Tuhan sembuh kembali setelah 4 (empat) hari Lalu kami kembali mengajar jemaat di sana. Di sana saya bertemu dengan seorang  (anak inang) Suda  bermarga Hutabarat, kemudian jemaat itu saya panggil bekerja di proyek P.U sebagai tukang gali sementara warga setempat solat Jum'at, kita pum mengadakan kebaktian di bedeng  proyek. Setelah situasi aman dan gereja berdiri, saya pun mengabulkan permintaan istri pulang ke Rangkas Bitung. Lalu mulailah masuk penginjil-penginjil ke sana dengan berbagai bentuk  organisasi, dan itu terus bertumbuh sampai sekarang. Di sana itu sekarang ada tugu peringatan di tempat di mana saya pernah dianiaya serta terbunuhnya Kyai Andhil yang membela  kedatangan Kristen ke tanah Banten

Setelah peristiwa itu saya  ke Batu Malang untuk menambah pendidikan Alkitab. Saya berangkat Ke Gunung Sindur Bogor, kondisi wilayah itu belum ada penerangan umum dan jalan raya, masih rawa-rawa dan hutan namun seorang saudara saya umat Muslim yang waktu itu sedang mengikuti pendidikan di IAIN di Ciputat, meminta saya untuk memberikan segala informasi tentang Al-kitab untuk menyusun desertasinya di IAIN Jurusan Studi Perbandingan Agama, dia pun lulus dengan baik, Karena dia kepala Desa di Gunung Sindur tersebut, saya berdoa meminta jalan kepada Tuhan, rupanya Kepala Desa itu balik harinya memberikan jalan keluar dengan menyerahkan setapak tanah, sekarang menjadi Gereja Pantekosta di Indonesia yang berada di Jalan Raya Gunung Sindur Bogor.

Bagaimana cara masuk  menjadi tokoh Pemuda Pancasila Bogor ?

Sebenarnya kita melihat masalah pembakaran-pembakaran dan perusakan itu menurut bukti adalah pemuda-pemuda yang kurang memahami latar belakang agarna, khususnya sejarah Kristen dan Islam. Padahal kedua agama tersebut adalah masih satu sumber dari Nabi Ibrahim, tapi karena kurang adanya oknum-oknum kericuhan, terjadilah selalu peristiwa-peristiwa yang tidak mengenakkan keduaagama Allah tersebut.

Bagaimana caranya agar pemuda Indonesia yang terdiri dari berbagai suku agama dan bahasa, dapat didekati?

Dengan kembalinya saya menjadi anggota organisasi Pemuda Pancasila maka harapan untuk bertemu dengan pemuda-pemudi dari organisasi yang berlabel keagamaan, khususnya organisasi pemuda mempermudah mengarahkan mereka bersama-sama menjaga kerukunan dan berpartisipasi sebagai warga yang memiliki pandangan hidup yang sama bahwa kita berada di negara Pancasila.

Sebenarnya di Medan sejak tahun 1972 saya sudah aktif pada Pemuda Pancasila bagaimana supaya tidak terjadi kebrutalan itu. Sebab negara ini adalah negara Pancasila tentunya pemuda diarahkan sesuai dengan keinginan negara dan bangsa Indonesia. Maka melalui inilah saya menjadi pemimpin Pemuda. Saya ingin mereka itu terbuka untuk saling berdiskusi tentang hal-hal yang mengganjal hati mereka. Saya inginkan mereka itu sadar bahwa Islam dan Nasrani itu bersaudara. Kalau mereka saling terbuka, berdialog maka saya kira tidak terjadi lagi permusuhan antaa Islam dan Kristen. Yang mereka sangka selama ini agama Kristen adalah kafir. Orang Kristen itu adalah pengikut ajliran Jahurdi dari Nasaret (Nasrani), Saya jelaskan bahwa Kristen itu bukan orang Jahudi. Jesus itu adalah Isa Almasih bin Maria (Jesus Putra Maria), sebab orang Jahudi tidak bisa menerima Jesus, membunuhnya, dan menolak seorang Nabi, sedangkan Al-Qur’an menempatkan Nabi Isa dalam kedudukan terhormat. Jadi orang Kristen itu bukan orang Yahudi, tapi pengikut-pengikut Isa Almasih yang mereka kenal pada Al-Qur’an adalah Kaum Nasrani Pengikut Isa Almasih adalah sahabat dekat, akhirnya mereka dapat memehaminya.

Hubungan Pak Silitonga dengan Kyai di wilayah Bogor cukup bagus dalam membangun kerukunan umat, apa saja kiatnya?

Saya selalu tekankan prinsip agama Islam yaitu Lakum Dinukum Wal ya din (Lu-lu, Gua-gua, Agamamu-agamamu, Agamaku-agamaku) jadi kita tidak boleh menyinggung prinsip agama masing-masing. Sebab Tuhan Jesus mengatakan jangan menangkan perdebatan (mengalah untuk menang), mundur tapi berpikir, bukan mundur untuk kalah, tetapi kita pikir bagaimana untuk menang. Sebab kadang kala saya perhatikan adalah masalah keterbukaan, komunikasi dan memerlukan dialog.

Satu kiat yaitu, jangan berperilaku aneh, saya mengakui banyak pendeta over acting, saling sikut, dan kurang bergaul dengan siapa saja seperti tokoh pemuda, agama Hindu, Katholik, sehingga kita akrab. Saya jengkel melihat pendeta tidak kasatria mereka ingin enaknya saja, saling mencuri domba (Jemaat) dan kemudian mendoakan jemaat, itu terjadi seperti saya alami sekarang. Di depan gereja saya berdiri gereja besar yang tidak punya ijin.

Pengalaman saya yang lain, seorang pejabat beragama Islam Kantor Urusan Agama Bogor pernah berceramah, ia mengutip ayat dari Injil yang saya kira penjelasannya kurang tepat, ia mengutip : Jadikanlah semua bangsa jadi muridku, beritakan Injil (Markus 16) Wah rupanya orang Kristen harus bawa Injil ke rumah-rumah yang sudah punya agama, ini tidak boleh katanya. Di tempat itu sayalah satu-satunya orang Kristen, tentu tidak bisa menerima penjelasan tersebut, tentu dia bereaksi karena tidak bisa menerima pandangan  tokoh pejabat tersebut, saya katakan : maaf Pak, itu kitab saya mengapa Bapak menjelaskan kitab agama saya menurut tafsiran agama Bapak. Mereka diam mendengar uraian saya. Bagaimana kalau Kitab Al-Qur’an saya jelaskan menurut penilaian saya. Akhirnya menjadi perdebatan. Yang Bapak katakan itu firman terjemahan Bahasa Indonesia, karena dalam bahasa aslinya kurang tepat, disana tertulis beritakanlah engaleum yang artinya berita kabar baik kepada sekalian bangsa, jadi bukan mengkristenkan, tetapi menyebarkan kabar baik, yaitu berita suka-cita untuk menyelamatkan orang-orang yang tersesat dan jalan Allah, atau yang tercantum hidupnya. Contoh kalau saya lihat ada kebakaran : Pak ada api, saya beritakan kepada bapak itukan kabar baik, apa keberatan kalau saya kabari agar Bapak terhindar dari kebakaran, atau menjelaskan mana surga dan mana neraka yang diajarkan oleh agama kita, itulah kabar baik. Mereka tidak tahu kalau Injil ada bahasa aslinya, sedangkan terjemahan bahasa Indonesia kadang kurang pas, sehingga mengundang orang takut melihat dakwa Kristen.

Saya sering berdialog kepada mereka di berbagai tempat bahkan di Mesjid, tapi dengan kapasitas tokoh pemuda dan masyarakat Pada kesempatan pertemuan dengan pendeta Kristen dan umum itu sering ditanyakan kepada saya; saya anjurkan jangan mengkristenkan, tapi bawalah kata kabar baik atau kabar sukacita.

Bagaimana Bapak Silitonga melihat kerukunan antar jemaat ?

Saya terus terang mengakui ada kerisauan di hati saya melihat kerukunan antar jemaat Kristen Khusus di wilayah ini, apalagi kecurigaan antara interdominasi contoh ada 33 gereja memberikan rekomendasi kepada satu Gereja, agar kepada gereja itu diambil tindakan penuntupan. Gereja ini selalu mengadakan gerakan yang meresahkan tetangganya dengan cara membuka kelompok sel. Padahal jemat di situ 1 (satu) orang. Itu tentu mengganggu mengambil ikan di kolam tetangga, artinya merekut jemat gereja local.

Hal seperti bisa mengakibatkan hubungan harmonis Kristiani kurang baik?

Sementara menurut pengamatan saya kerukunan umat beragama di Bogor cukup bagus, hanya tingkah dan sikap dari para pendeta membuat orang lain curiga. Ada seorang pendeta membuat provokasi dengan menyebarkan desas-desus: "ada di sana, di situ Gereja dilempari/dirusak, padahal di Bogor hal itu tidak pernah terjadi. Pendeta besar sering menakuti Gereja kecil : selaku ketua GPdI ketika itu saya tidak menerima sembarang isu terjadi di kalangan Gereja Pantekosta, mereka terlebih dahulu menanyakan kepada saya.

Adakah di daerah ini ada Badan Kerjasama Antar Kerukunan Umat Beragama?

Ada saya adalah sekretaris di kabupaten Bogor/ dan badan ini ada di Bogor dan Depok. Saya sering turut melihat kalangan rekan-rekan pendeta yang membesarkan dirinya dengan alasan lebih senior, dan mengklaim gerejanya lebih hebat, ada kecenderungan sesama gereja bukan lagi Tuhan Jesus ditinggikan, tetapi Gerejanya. Saya selalu berkata bahwa saya tidak punya jemaat, karena jemaat itu Tuhan punya, biarlah mereka menilai saya dari cara saya bekerja sepanjang saya punya prinsip alkitabiah, beritakanlah kabar suka cita. Kalau saya mengajar baik tentunya Tuhan mempercayai jemaat lebih banyak.

Pendeta Silitonga sering menggunakan seragam Pemuda Pancasila, apakah tidak risih ?

Mereka mengetahui bahwa saya adalah pendeta : saya tidak risih menggunakan label Pemuda Pancasila, demikian keluarga saya sebab dengan cara ini lebih memudahkan bergaul. Contohnya bagaimana cara saya mendekati yang bukan beragama Kristen, tapi dengan cara ini lebih praktis menjelaskan berita suka duka itu.

Bagaimana Bapak melihat adat dan kebudayaan Batak ?

Saya masih mengakui diri saya sebagai orang Batak yang berasal dari keturunan dari marga Silitonga, kelompok marga Tuan Bagarna dari kelompok besar dari marga suku batak (Panjaitan, Silitonga, Siagian, Sianipar), saya melihat kebudayaan itu sebagai bagian kehidupan manusia yang harus dikuduskan dalam agama yang dari surga. Saya tetap menghormati manusianya, makanya saya masih mau memberikan marga kepada istri saya, tapi adat kekafirannya yang masih terikat dengan roh leluhurnya sudah saya putuskan dalam agama saya. Oleh sebab itu Injil di tanah Batak harus tegas menghadapi perilaku kekafiran di dalam kebiasaan hidup manusia (naskah karya biografi Kharel Silitonga sekarang menjabat Presiden Dewan Pendidikan Nasrani Nasional (DPNN) yang dikukuhkan pada tanggal 28 Januari 2011 di Jakarta Media Center Gedung Dewan Pers pada Hari Pers Reformasi tahun 2011.*RTS

Bagikan Artikel Ini :