Rabu, 23 April 2014 | Selamat Datang
13 : 37 PDIP Akan Perbaiki DCS, Beberapa Caleg Berpindah Dapil Panwaslu Tegur Jokowi, PDIP Harus Sadar Diri KPK Sita Tiga Mobil dari DPP PKS KPK Periksa Perwira Polri terkait Simulator SIM Kasus Impor Daging, KPK Periksa Kerabat Anis Matta Majelis Mujahidin Akan Gugat Pancasila Sebagai Dasar Negara ke MK Demokrat Belum Coret Tersangka Korupsi dari Daftar Caleg Ahok Ancam Guru Honorer yang Demo Ahok Sudah Prediksi e-KTP Akan Bermasalah Jokowi Diharapkan Tinjau Seleksi Camat & Lurah 2015, Pilkada Dilakukan Secara Serentak UU Parpol Digugat ke MK Gereja-gereja Indonesia Gelar 'Celebration of Unity' Tokoh Bulutangkis Karsono Meninggal Polisi Papua Barat Berhasil Temukan Barak Pelatihan Anggota OPM Jokowi Pusing Dokumen Hambat Proyek Monorel PDIP Klaim Jokowi Kantongi Izin Kampanye di Bali BKN Keluhkan Perilaku Pejabat Daerah Urus Pegawai Warga Saudi Terlibat Bom Gereja Di Tanzania Ahok: Pengganti Dirut Ancol Harus Orang Dalam

Translator

Popular

Renungan

Politik Hati Nurani: Santun>Bersih

Rasul Paulus nabi apostolik universal dengan dogma Roh Kudus ajaran ubah konstitusi kerajaan kafir jadi negara di mana Tuhan yang Esa (Elohim, Alahim, Allah) memerintah.

Dasar Imam Agung Jahudi>Islam nyatakan Dia Pendiri/Masab/Sekte Nasrani (Nashara) dengan Ideologi Iman (Pistiokrasi) dengan doktrin politik hati nurani (Hanura). Pangkatnya Kristen santun bersih. Allah bertahta pada Hati Rakyat (Kis 24:5, 11;25-26, 1 Kor7:6;Ef3:12

Lagu " Kumenang"

Robinson Togap Siagian

Suara Pembaca

Roh Kudus Menyertai Kita

YOH 14 ;15 Jika kamu mengasihi AKU , kamu menuruti perintah-KU. 16 AKU akan minta kepada BAPA , dan DIA akan memberi padamu Seorang PENOLONG yang lain , supaya IA menyertai kamu selama-lamanya .   17 yaitu ROH KUDUS , Dunia tidak menerima DIA , sebab tidak melihat DIA dan tidak mengenal DIA .    Tetapi kamu mengenal DIA , sebab IA menyertaimu dan diam didalam kamu >RENUNGAN ; ROH KUDUS menyertai dan diam didalam kita ! HALELUYA HALELUYA

Basirun Sinaga

 
Repot?

Ketika seseorang bertanya dari (sms) buat apa repot-repot mengirim ayat emas tiap minggu? Jawaban ada di >> Jos.1:8: Kita tidak boleh lupa mempercakapkan taurat Tuhan siang dan malam. "selamat beribadah"

-Pdm Togar L Tobing-

 
Jarak Terdekat Masalah

MAZMUR 4 ; 2 Apabila aku berseru ,jawablah aku , ya TUHAN , yang membenarkan aku . Di dalam kesesakan , ENGKAU memberi kelegaan kepada-ku . Kasihanilah aku dan dengarkan lah doa-ku ! >RENUNGAN ; Jarak terdekat antara suatu masalah dengan pemecahan masalah tersebut adalah jarak di antara lutut kita dengan lantai . >Selamat mencoba bagi kita yang mungkin membutuhkan pemecahan suatu masalah yang kerap terjadi !HALELUYA YESUS TUHAN MEMBERKATI !

Basirun Sinaga

 
Bapak Naik Turun Surga, Anak ke Penjara PDF Cetak E-mail Dibaca: 35575
PostAuthorIcon Majalah Spektrum    PostDateIcon Selasa, 16 Agustus 2011 07:10

Bapak Naik Turun Surga, Anak ke PenjaraDi ruang tahanan kantor Polres Jakarta Selatan itu mendekam beberapa pelaku yang diduga melakukan tindak kriminal. Di salah ruang berjeruji besi itulah Arseto meringkuk. Dia anak Pariadji, seorang pendeta terkenal yang menakhodai gereja besar bernama Gereja Tiberias Indonesia (GTI). Sejak Mei atau hampir satu bulan mendekam di Polres Jakarta Selatan, Arseto sudah dipindahkan ke Lembaga Permasyarakatan Cipinang, Jakarta Timur. "Arseto sudah tidak di sini. Dia sudah dipindahkan ke LP Cipinang. Dia tertangkap karena memakai narkoba dan melakukan kekerasan terhadap pembantu rumah tangga," kata Kepala Sentral Pelayanan Terpadu (KSPT) Komisaris Polisi Harsono kepada SPEKTRUM.

Kabar tertangkapnya Arseto oleh polisi mengejutkan banyak pihak. Menurut sejumlah sumber dari Polres Jakarta Selatan, anak bungsu dari tiga bersaudara itu tertangkap tangan bersama rekan-rekannya mengonsumsi sabu-sabu di sebuah apartemen, tempat tinggalnya di Jakarta. Arseto juga tersangkut kasus lainnya, yakni penganiayaan terhadap pembantunya sendiri. Dua pasal berlapis bakal menjerat dirinya. Sejumlah sumber mengatakan, Arseto memang masuk target yang paling diintai polisi. Keterangan itu makin diperkuat setelah salah seorang pendeta mendapatkan laporan dari aparat Badan Narkotika Nasional (BNN) yang memberitahu bahwa anak seorang pendeta kondang yang berdomisili di sekitar Semanggi sedang diintip untuk diciduk. Ciri-ciri anak tersebut tak sulit ditebak, sebab Arseto dikabarkan sejak lama memakai narkoba. Tidak hanya sebagai pemakai, target BNN itu lantaran buruannya masuk kategori pengedar.

Hasil penilisikan SPEKTRUM dari sejumlah sumber, Arseto pernah ditangkap dengan kasus yang sama, namun ditebus keluarganya dengan uang jaminan. Tertangkapnya dia untuk yang kedua kali ini sepertinya kurang mendapat empati dari orang tuanya. Menurut keterangan sumber di Polres Jakarta Selatan, selama sebulan mendekam di tahanan, kedua orang tua Arseto tidak pernah membesuk. Namun, seorang perempuan cantik disebut-sebut beberapa kali menemuinya di tahanan. Saat Arseto merayakan ulang tahunnya ke-30 pada 5 Juni, lalu perempuan itu membawa kue ulang tahun dengan memakai gaun berwarna merah. "Dia pacarnya Arseto." kata sumber yang ikut menyaksikan acara tersebut.

Kabarnya, perilaku Arseto selama berada di penjara Polres, pun kurang terpuji. Menurut sumber SPEKTRUM, selama di dalam kurungan nilai moral Arseto tetap anjlok. Dia masih doyan merokok. "Ya, jeruji besi terbukti tak mampu mengekang kebiasaan buruknya itu," kata sumber SPEKTRUM. Selain itu, dia jarang mengikuti kebaktian di ruangan sel. "Pernah saat kebaktian, Arseto ditegor hamba Tuhan yang sedang berkhotbah lantaran tak tertib dalam beribadah. Karena tidak senang ditegor, dia langsung pergi ninggalin kebaktian," kata sumber tersebut.

Dua minggu setelah Arseto mendekam di ruang tahanan Polres Jakarta Selatan, SPEKTRUM mencoba menemuinya di ruang tamu penjara tersebut. Saat saling bertemu, wajah Arseto terlihat cemas dan bergegas masuk ke selnya setelah diketahui bahwa yang dijumpai ternyata wartawan. Seorang petugas jaga menjelaskan bahwa Arseto tidak ingin dijumpai wartawan. Upaya yang sama dilakukan SPEKTRUM terhadap sang ayah, Pdt. Pariadji. Usai memimpin perjamuan kudus di GTI Gedung Kirana, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Pariadji tidak ingin berkomentar. "Saya tidak tahu.., jawabnya singkat sambil bergegas masuk lift dengan pengawalan ketat sejumlah pengawalnya.

Saat Pariadji bergegas meninggalkan gedung, Edwin, ajudan pribadi Pariadji, menyapa SPEKTRUM dan bersedia menyiapkan waktu untuk keperluan wawancara. Singkat cerita, hasil pertemuan untuk keperluan wawancara itu ternyata tidak ada sedikit pun komentar dari pihak Tiberias yang diwakili Edwin bersama rekannya, Marlo. Malah, SPEKTRUM diduga salah melihat Arseto. "Kan banyak juga nama Arseto," kata Edwin. Beberapa kali SPEKTRUM meminta pembicaraan itu direkam, namun mereka menolak keras. Niat untuk bertemu kembali akhirnya digagas Marlo. Namun, dengan alasan sibuk, gagasan itu tidak kunjung terealisasi.

Perilaku dan tertangkapnya Arseto tentu menuai aib bagi keluarganya, terlebih Pariadji dengan nama besar yang harus dipertaruhkan. Pariadji akan merasakan kesulitan untuk lebih berani lagi mewartakan Kabar Baik kepada jemaatnya karena apa yang diucapkan berbanding terbalik dengan kehidupan anaknya sendiri. Tentu Pariadji sadar, mempertahankan nama baik jauh lebih sulit dibanding meraihnya. Banyak orang akhirnya akan mencibir bahwa dia selama ini dianggap bersandiwara dalam berteologi dan kesaksiannya seputar "naik-turun" surga lebih dianggap halusinasi. Sebab, anaknya sendiri malah masuk penjara.

Sosok dan perilaku Arseto di Tiberias memang dikabarkan menyita perhatian di kalangan pendeta. Tingkahnya dinilai tidak mencerminkan sebagai pelayan Tuhan, dan istimewanya lagi dia cenderung memiliki otoritas tanpa batas dalam mengatur manajemen keuangan dan sirkulasi jadwal khotbah pendeta di lingkaran pastoral GTI. Konon, keluarnya Pdt. Gilbert Lumoindong dari daftar pengkhotbah di GTI juga "karya" Arseto. Saat ditanya langsung soal nasib Arseto di penjara, Gilbert mengetahui hal tersebut namun tidak mau berkomentar. "Saya tahu. Tapi gak enak komentari itu soalnya saya dari sana," kata Gilbert. *Majalah Spektrum


Bagikan Artikel Ini :